2.16.2011

Resahku, Resahmu, Resah Kita Bersama


Aku baru saja tiba di bandara saat waktu menunjukkan pukul 6.20 wib. Masih pagi. Udara masih sejuk. Yah, aku berkesempatan untuk kembali ke tanah air usai ujian termin satu-ku di Universitas Al-Azhar, Kairo. Sebenarnya tak ada rencana pulang ke tanah air, hanya saja aku masuk dalam daftar WNI yang terevakuasi. Jadilah aku sekarang menghabiskan masa liburanku-yang hanya tiga minggu-di indonesia. Tapi tentu bukan ini yang akan aku ceritakan kawan. Aku ingin berbagi kemelut yang aku rasakan selama perjalananku dari bandara menuju asrama haji. Agar kita bahas dan kita temukan jalan keluarnya bersama-sama.

Kemelut apa yang kurasakan ?
Tentu itu pertanyaan selanjutnya.
Jawabanku, mari ikuti perjalananku, kawan.

Aku duduk di bangku belakang sopir. Aku berada di dalam bis yang akan mengantarkan kami dari bandara menuju asrama haji untuk selanjutnya dijemput oleh orang tua masing-masing.
Arah pandangku tepat beradu dengan aspal. Aku dapat melihat jelas mobil-mobil yang berseliweran di sekitar bis. Sirine meraung-raung dari salah satu kendaraan patroli. Bis yang aku tumpangi dikawal oleh mobil patroli. Dan aku begitu menikmati saat-saat menjadi orang penting. Kapan lagi-batinku dalam hati. Kalian tentu tau, saat mobil patroli lewat-ikhlas atau tidak-mobil-mobil yang berada di sekitarnya harus mengalah (baca:menyingkir) dan memberi jalan kepada kami. Bagaimana tidak aku merasa menjadi orang penting. Padahal kala itu di dalam bis bukan hanya ada diriku, tapi banyak teman-temanku yang turut andil merasakan menjadi orang penting-meski hanya sehari. Pe-de nian diriku.
Jalanan tersedat. Tapi kami tidak terjebak macet. Sirine dari mobil patroli cukup ampuh membuat kami terbebas dari penyakit ibukota. Aku memperhatikan sekitar : bis yang kutumpangi masih melaju dengan santai. Untaian panjang mobil-mobil yang tak kunjung menciut. Suara klakson yang melengking dan saling bersahutan. Cacian yang justru menambah kemelut. Asap knalpot yang tak henti-hentinya menyesakkan udara. Ditambah lagi ada rombongan bis-yang berjumlah (kurang lebih) lima : aku lupa, melenggang dengan angkuhnya. Tak sengaja aku memperhatikan seraut wajah sopir metromini yang seakan berteriak-Hey ! Kau pikir kau Tuhan, hah ! Bertingkah seenaknya di jalan. Kau tidak lihat kami yang tengah muak berkemul dengan kemacetan.Makanan kami sehari-hari. Ooh, udara inipun ,sungguh sesak!! Dan kau, dengan benda melengking itu bisa berlaku seenaknya !!- dan selanjutnya aku melihat air ludahnya yang bersinergi dengan aspal. Aku pun merutuki diri yang berada dalam rombongan ini.
Kuputar arah pandangku. Hey ! Kendaraan berwarna merah. Ya, kau tau ? itu busway !! Aku histeris. Namun bukan karena baru pertama kali melihat busway, tapi lihatlah angkutan umum yang dibanggakan dapat menjadi salah satu pengurang timbulnya kemacetan itu justru sukses terjebak macet. Aku meringis.

Kemacetan memang menjadi salah satu PR terbesar bagi negara kita. Dari tahun ke tahun masalah ini justru semakin berakar. Tak kunjung usai. Dan lihatlah dampaknya. Selain waktu kita yang terbuang percuma di jalan, polusi udarapun semakin menyesakkan ruang pernapasan kita. Udara berisi zat-zat yang menyiksa saluran pernapasan kita. Lihatlah, mereka menari-nari di atas kemacetan itu. Hitam. Pekat. Aku merinding. Entah mengapa, aku pun sesak.
Polusi udara.
Isu tersebut tentu sering kita dengar. Pembakaran bahan bakar untuk kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber dari pembuangan limbah zat pencemar yang menyebabkan polusi udara. Seperti yang tertulis pada sumber, kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber utama zat-zat pencemar udara terutama CO, NO, dan NO2. Dampaknya zat-zat ini dapat mempengaruhi sistem pernapasan dan pembuluh darah. Dan kenyataannya justru sekarang kendaraan bermotor di negara kita semakin banyak. Ini menandakan  akan terbukanya peluang polusi udara semakin meningkat. Bagaimanakah cara kita untuk memberi andil dalam pencegahan polusi udara ?

Bila kita hitung dalam satu hari, berapa kali kita terjebak macet ? Berapa kalikah kita harus merelakan tubuh ini terdzolimi dengan zat-zat berbahaya yang berasal dari asap knalpot kendaraan ? Berapa kalikah.... Ya, kita memang terlalu luput dengan hal-hal seperti ini kawan.

Aku teringat ketika suatu pagi aku sedang membaca surat kabar nasional. Salah satu berita tertulis 'Perusahaan X telah berhasil memproduksi satu juta motor dalam setahun'. Aku merengut. Aku membayangkan motor-motor tersebut tertawa dengan kepulan asap dari knalpot yang menari-nari di udara. Bagiku berita itu suatu musibah. Musibah bagi bumi tempat kita berpijak. Musibah bagi kehidupan kita. Tidakkan kita terlalu konsumtif kawan ?

Kau tau kawan berita yang ramai akhir-akhir ini. Mengenai masalah kemacetan. Yah, aku mendengar akan diberlakukan peraturan mobil gelap dan terang untuk ruas jalan tertentu. Apakah itu berpengaruh ? Mungkin iya bagi kami yang hanya rakyat biasa. Toh, mobil kami tak lebih dari satu. Atau tak sebanyak para hartawan yang bisa dengan mudah membeli mobil dengan berbagai warna. Membayangkan asap yang mengepul-ngepul dari knalpot mobil mereka. Sungguh ancaman bagi alam kita, kawan.

Yah, kita menyadarinya, angkutan umum yang selama ini ada memang jauh dari kata nyaman. Hatta, busway sekalipun. Dan karena itulah, mungkin sebagian dari kita lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Tapi lihatlah sisi lain, saat kita berpikiran sama-untuk selalu memakai kendaraan pribadi-saat itu juga kita telah bersuka rela merusak lingkungan kita dengan asap dari knalpot kendaraan kita. Pakailah sesuatu karena kepentingannya. Bukan sekedar bergaya. Bukankah menjaga alam itu kewajiban bersama kawan. Mulailah dari hal kecil. Dengan bepergian menggunakan angkutan umum. Kita dapat mengurangi penyebab kemacetan  untuk tetap membiarkan kendaraan kita berada di garasi rumah. Itu berarti kendaraan kita bukan salah satu penyumbang asap yang mengepul di udara saat kemacetan berlangsung. Atau lebih memilih jalan kaki saat pergi  ke suatu tempat dengan  jarak yang dekat dan membiarkan motor milik kita tetap anteng di rumah. Semuanya  dimulai dari diri kita sendiri. Untuk keselamatan bumi kita ! jadilah pahlawan bagi keselamatan bumi kita kawan ! Jadilah pahlawan ! Jangan Egois !

Aku tersenyum. Bis kami akan melewati gerbang asrama haji. Mataku tertambat pada satu sosok. Seorang pengendara sepeda diantara kerumunan kendaraan berknalpot. Bukankah itu ide bagus juga kawan ?
Read More- Resahku, Resahmu, Resah Kita Bersama

10.26.2010

Kejutan Tuhan

Saat duduk di bangku sekolah dasar aku selalu merunut jenjang pendidikan yang kelak akan aku tempuh. Aku membayangkan akan duduk di bangku SMP, memakai seragam putih-biru, lalu berlanjut ke SMA, dengan seragam putih-abu-abu dan selanjutnya menjadi mahasiswa. Aku selalu berpikir; kala itu bahwa hal yang aku bayangkan tersebut kelak akan mengalir seperti air. Tenang, lancar, tanpa hambatan. Terbayang seperti selokan depan rumahku. Yang membuatku terlupa beberapa hal. Sewaktu-waktu mungkin akan ada batu yang terlempar ke dalam aliran selokan hingga membuatnya beriak.Atau sampah yang mungkin saja membuat saluran air  hingga meluap ke sekitarnya. Atau balok kayu yang entah sengaja atau tidak diletakkan hingga membuat aliran itu tersendat. Yah, aku lupa akan hal-hal tersebut. Selalu terlupa...
Sedari kecil aku telah dikenalkan dengan kata usaha. Bahwa usaha = terwujudnya keinginan. Aku memasukkannya dalam daftar rumus kehidupan. Dan bila aku mendapat 'soal cerita', misalnya, aku ingin sekali barbie tapi aku tak berani memintanya kepada mama.Maka aku harus mendapat peringkat agar mamaku tak berpikir dua kali untuk membelikannya.
Rumus ini selalu berhasil aku terapkan di segala kondisi. Yah, aku katakan segala kondisi karena aku merasakan bahwa usaha dan keinginanku memang selalu berbanding lurus*. Hingga akhirnya aku dibuat terkejut olehNya.
Mendapat beasiswa dan sekolah di luar negri adalah impianku sejak kecil. Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan untuk merasakannya. Dan di mesir-lah aku sekarang berada. Yang kubayangkan ketika aku tiba di mesir akan langsung merasakan sibuknya aktivitas kuliah. Hingga aku lulus empat tahun mendatang. Dan bukan hanya aku yang berpikir seperti itu. Teman-temankupun berpikir serupa denganku. Kami selalu mengatakan bahwa kelak kami datang bersama dan akan lulus bersama pula. Empat tahun mendatang kami akan bergelar LC. Tekad kami dalam hati.
Tapi ternyata tidak, sesampainya di mesir kami dibebankan dengan ujian bahasa. Hari-hari kamipun disibukkan dengan belajar. Setiap malam kami berusaha untuk berkumpul bersama. Meski akhirnya tidak setiap malam rencana itu berjalan. Hanya bertahan pada dua minggu pertama. Dan selebihnya kami berkutat dalam kesibukkan masing-masing.
Akupun berkutat dengan usahaku. Belajar bahasa dan mengulang hafalan qur'an. Selalu seperti itu. Akupun selalu meminta untuk diberikan jalan terbaikNya.
Hingga hari itupun tiba. Kamipun melaksanakan ujian bahasa. Tes tulis dan wawancara. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar; yang kurasakan saat itu. Kini, waktu kami untuk menunggu hasil ujian bahasa tersebut.
Sebulan berselang, kamipun belum juga mendapat kepastian. Hanya selentingan kabar bahwa seluruh peserta ujian asal Indonesia dinyatakan lulus. Akupun mengucap syukur.
Hanya saja, selentingan kabar belum membuat kami; teman-temanku dan aku, merasa lega. Kamipun mendatangi duktur;sebutan kami untuk dosen, agar mengetahui kebenarannya. Entah mengapa, saat masuk ke ruangan duktur tersebut aku merasakan hawa yang berbeda. Jantungku berpacu. Berdegub lebih kencang dari biasanya. Perasaanku amat tak enak. Padahal ruangan tersebut ber-AC dan nampak nyaman dengan tembok yang berwarna lembut, hiasan pot dengan buang plastik, dan pewangi ruangan beraroma jeruk yang amat kusuka. Tapi aku sungguh tak nyaman berada di ruangan itu. Ya Allah, ada apa ini..., jeritku dalam hati.
Salah seorang temanku mengatakan maksud kedatangan kami. Duktur itu mengeluarkan sejumlah kertas dari dalam amplop coklat. Dia lihat sekilas kertas itu kemudian berkata, "semuanya lulus." Serempak kami mengucapkan syukur. Salah seorang temankupun memberanikan diri untuk menyebutkan namanya dan bertanya apakah dia lulus atau tidak. Duktur itupun mengangguk sambil telunjuk kanannya menunjuk sebuah nama yang tertulis di atas kertas. Saat tiba giliranku. Duktur itu menatapku dan kemudian menggeleng. Jantungkupun semakin berpacu. Nafasku memburu tak menentu. Hawa dingin menelusup di sela jilbabku dan menyenggol bulu kudukku. Beliau mengatakan hal yang berbeda dari yang dia katakan kepada teman-temanku. Aku terkejut. Mataku panas. Aku tidak lulus.
Sejak itu, susah bagiku untuk mengendalikan perasaan. Aku mencoba tegar. Bersikap biasa. Menyimpan rapat-rapat rasa kecewa yang kurasakan. Tapi.., hanya air mata yang kemudian bersisa dari caraku. Aku terus menangis. Di otakku hanya terbayang gerakkan bibir duktur yang menyatakan aku tidak lulus dan diikuti dengan bayang-bayang kedua orang tuaku. Aku mengadu kepada Allah. Menumpahkan semua yang kurasakan. Menanyakan semua hal yang kubingungkan. Menghujat semua hal yang terjadi padaku (Ya Allah, maafkan hambaMu yang hina ini...). Merintih. Menangis. Terisak.
Cukup lama waktu yang kubutuhkan untuk mengelola perasaanku bertepatan dengan sebuah e-mail yang masuk. E-mail dari mama.

Jika Allah memberikan kita cobaan yang banyak, berarti Dia menghendaki kita menjadi mukmin yang sejati.

Jika Allah memberikan kita masalah2 yang berat berarti Dia menghendaki kita menjadi pribadi yang kuat.
...
Jika Allah memberikan kita tantangan2 yang besar berarti Dia menghendaki menjadi orang yang pintar.

Selamat menjadi mukminah yang sejati, kuat dan pintar
Akupun menangis. Tak semestinya aku menghujat caraMu Ya Allah**. Tak semestinya aku mengeluh dengan kasihMu Ya Allah. Sungguh, kenyataannya walaupun kejutanmu sesaat membuatku terpuruk namun membuatku dapat memahami betapa indah caramu untuk menjadikanku menjadi lebih dewasa. Mengingatkanku untuk selalu bersyukur dalam setiap titik rezekimu. Memahamiku bahwa hanya Engkaulah yang menentukan segala upaya kita. Membuatku merasakan betapa sayangnya Engkau kepada hambaMu dalam kejutan yang membuatku berbeda. Hingga aku berpikir inilah caraNya untuk memberiku jalan meraih mimpiku. Suatu saat senyumku kelak menanti; yang selalu memohon perlindungan naunganMu. Insya Allah. 


*Ya Allah, betapa angkuhnya hamba...
**Akupun teringat sebuah kalimat yang sering diucapkan oleh guru sejarahku saat SMP yang sering ia ucapkan seusai menceritakan cerita sejarah; yang ia kutip dari ayat Al-Qur'an.
"Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pembuat makar."



Read More- Kejutan Tuhan

8.11.2010

Dampak Lain Kartu Kredit Syariah

Di mana-mana mal megah berdiri. Begitulah yang terlihat saat saya mengedarkan arah pandang di sekeliling tempat saya berpijak. Saya berada di kawasan Bekasi Barat saat itu. Bagi yang tinggal di kawasan Bekasi tentulah tak asing lagi. Dengan jarak yang tidak terlampau jauh sejumlah mal berdiri dengan kokohnya seperti saling menyapa. Tidak berhenti sampai di situ, banyaknya penawaran yang berbentuk toko-toko dari yang besar sampai yang kecil hadir untuk menjadi bumbu yang ‘sedap’ atas keberadaan mal. Hal ini pun yang kadang membingungkan konsumen dalam menentukan apa maupun dimana yang ia inginkan. Saking banyaknya pilihan.
Namun, inilah potret konsumerisme. Sifat konsumtif ini semakin dipermudah dengan hadirnya sistem pembiayaan berbasis kartu kredit. Dan, memang inilah ladang yang empuk bagi perkembangan kartu kredit.
Saya menjejakkan kaki ke salah satu toko sepatu yang cukup besar di salah satu mal di daerah Bekasi Barat. Tak perlu saya katakan apa yang berjejer di dalamnya, tentulah sudah diketahui. Saya justru memperhatikan ke arah kasir bukan-yang seharusnya-asyik memilah-milah sepatu mana yang saya sukai. Berbagai macam penawaran untuk kemudahan transaksi disuguhkan. Sebuah papan yang tergantung di atas kasir menjadi wadah untuk berpromosi beberapa perbankan penyedia produk kartu kredit. Tak dapat dipungkiri bahwa kartu kredit memang memudahkan kita dalam hal transaksi. Kita dipermudah dengan tidak membawa uang kontan. Bahkan di saat kita tak memiliki uang sekalipun kartu kredit seakan menjadi penyelamat.
Saya pernah ‘diselamatkan’ oleh kartu kredit.
Suatu masa, saat tahun ajaran baru, saya membutuhkan buku-buku latihan spmb. Tetapi dana saya tak mencukupi. Ayah saya pun berbaik hati untuk meminjamkan kartu kredit miliknya. Girang hati saya kala itu. Tanpa saya sadari bahwa saya telah membuat ayah saya berhutang, hanya saja secara halus.
Memang saat itu saya merasa satu masalah telah selesai dan membuat saya terlupa masalah lain yang akan timbul-konsekuensi perbuatan saya yang pertama. Istilahnya gali lubang tutup lubang. Masalah yang kemudian timbul adalah beban yang harus ditanggung ayah saya untuk segera dibayarkan. Mungkin tak jadi masalah bila ayah saya dapat melunasinya. Tapi bagaimana bila tidak. Ah, saya pusing memikirkannya. Beruntung ayah dapat melunasinya. Namun, betapa kagetnya saya saat mengetahui jumlah yang harus dibayarkan oleh ayah saya tak sama dengan yang telah saya gunakan. Bahkan lebih banyak. Oh, saya terlupa perihal bunga.
Bunga memang kerap kali membebani para nasabah. Bahkan mungkin memang sangat membebani. Kita dipaksa untuk membayarkan sejumlah dana yang sama sekali tidak kita mengerti peruntukkannya. Di lain pihak, produk kartu kredit juga berguna. Hanya saja bunganya itu yang kerap membebani para nasabah.


Keuntungan
Hingga suatu hari, saya membaca sebuah majalah mengenai iB Perbankan Syariah. Pada salah satu ulasan membahas mengenai kartu kredit syariah. Di situ tertulis bahwa salah satu produk perbankan syariah ini tidak menerapkan sistem bunga berbunga. Intinya kartu kredit syariah merupakan sebuah produk yang berfungsi sebagai kartu kredit yang hubungan hukum antara pihaknya berdasarkan prinsip syariah.
Hadirnya salah satu produk dari iB perbankan syariah ini seakan sebuah jawaban atas resah segelintir orang mengenai sistem bunga pada produk kartu kredit umumnya. Bukan hanya itu beberapa produk pembiayaan ini pun membuka jalan untuk membuka usaha dengan cara membeli franchise dari produk ternama dengan kemudahan harga yang terjangkau serta pembayaran dengan cara mencicil sampai 12 bulan. Serta kemudahan-kemudahan lainnya.


Sisi lain itu
Di samping keuntungan yang juga membawa manfaat tersebut ada dampak lain yang mungkin saja timbul yaitu, semakin menggeliatnya tingkat konsumerisme warga. Bayangkan bila masyarakat disuguhkan sebuah produk pembiayaan berbasis kartu kredit yang tanpa pembebanan bunga. Tentunya animo masyarakat akan besar. Untuk perkembangan produk iB Perbankan Syariah ini dampaknya mungkin bagus. Namun, untuk masalah sosial seperti masyarakat yang makin konsumtif itu mungkin akan buruk. Karena masyarakat akan dengan mudahnya berbelanja apapun yang dia inginkan. Menyebabkan keborosan yang tentunyapun tak baik-melenceng dari budaya menabung yang telah diajarkan kepada kita dari kecil.


Harapan itu
Sehingga peran iB perbankan syariah dalam hal mengingatkan untuk tidak boros sebagai yang telah menawarkan produk pembiayaan berbasis kartu kredit ini, amat diperlukan. Yang diharapkan tentunya agar perbankan syariah bukan hanya sekedar menerapkan sistem syariah. Tapi juga manfaatnya bagi seluruh manusia. Sehingga kerugian maupun keburukan yang mungkin akan timbul dapat ditekan ataupun langsung dihilangkan.
Seperti yang diterapkan BNI syariah-sebagai contoh. Selain mengenalkan produk iB perbankan syariah tersebut, BNI syariah pun mengajak masyarakat untuk menggunakan kartu kredit tersebut dengan sebaiknya. Sesuai dengan moto mereka ‘Inspirasi Belanja Bijak Sesuai Syariah’. Sehingga diharapkan dapat mengimbangi tingginya tingkat konsumerisme.
Semoga iB Perbankan Syariah terus berkembang melebarkan manfaatnya ke seluruh pelosok negeri. Amin.
Read More- Dampak Lain Kartu Kredit Syariah

7.19.2010

Bank Syariah Menjemput Para Tunas Bangsa

Seorang remaja putri;saya taksir ia baru lulus SMA, duduk di tepi bangku angkutan kota-angkot- saat saya masuk ke dalamnya. Tidak banyak penumpang pada sore itu, hanya empat orang, termasuk supir angkot dan seorang bayi yang digendong remaja putri tersebut. Saya menerka bahwa itu adiknya. Suasana angkotpun sepi. Tak ada alunan musik maupun bisik-bisik obrolan. Kalaupun ada, hanya suara bising knalpot kendaraan yang lalu lalang menyalip angkot yang saya tumpangi. Tiba-tiba suara panggilan sang remaja putri memecah keheningan dalam angkot. Sebutan abang ia suarakan untuk memanggil sang sopir dan selanjutnya ia mewanti-wanti abang-nya;tanpa memikirkan kehadiran saya yang turut menjadi penumpang dalam angkot tersebut, untuk segera membayar cicilan hutang mereka kepada rentenir yang kerap mendatangi kediaman mereka. Ia juga mengeluhkan usaha warungnya yang mulai surut. Ia sempat tersenyum kepada saya. Saya pun hanya mengangguk dan mulut saya ragu-ragu menyunggingkan senyum balasan. Antara bingung dan kaget, saya terjebak dalam ‘pertemuan’ sebuah keluarga muda di dalam angkutan umum.

Kejadian sore itu cukup menyita pikiran saya. Saya amat yakin bahwa pasangan yang saya temui diangkot sore itu-remaja putri dan sopir angkot- sebaya dengan saya atau mungkin lebih muda. Entahlah, hanya saja bukan itu yang begitu menyita pikiran saya tapi curcol-curhat colongan- mereka mengenai keadaan yang sedang dililit hutang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa rentenir begitu kejamnya menerapkan bunga kepada para ‘klien’-nya. Hutang yang mungkin hanya berjumlah dua ratus ribu bisa melambung menjadi satu juta malahan mungkin lebih. Sungguh miris, bila kita harus membayar sesuatu yang sama sekali tidak kita pahami asal dan akan kemana dana tersebut digunakan.

Harapan Saya Untuk Perkembangan Perbankan Syariah

Saya jadi teringat pelajaran muamalah yang saya terima saat saya masih berstatus sebagai pelajar madrasah aliyah. Bahwa riba adalah haram hukumnya. Jujur saat itu saya menelan teori itu mentah-mentah tanpa saya berpikir, mengapa diharamkan ? Terlebih dari mulai duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah dikenalkan dengan ‘sosok’ bank yang menerapkan bunga; saat itu saya tak peduli dengan tulisan bunga yang biasanya diikuti dengan deretan angka, tapi lebih tertarik dengan hadiah yang berupa boneka yang diberikan oleh bank tersebut, dan lebih dikenal dengan istilah bank konvensional.

Cara itu cukup efektif, maksud saya, mengenalkan dunia menabung di bank sejak dini. Saya cukup terasuki dengan cara tersebut. Selain saya memahami bahwa menabung itu suatu perencanaan hidup yang baik, saya pun cukup terasuki bahwa bunga bukan suatu hal yang ‘aneh’. Hingga akhirnya saya duduk di bangku aliyah dan mulai mempelajari fikih, yang salah satu bahasannya mengangkat tema perbankan.

Pada suatu kesempatan, saya bersama teman-teman saya, tentunya didampingi oleh seorang guru, membahas tentang ‘Bank Syariah vs Bank Konvensional’. Kami diwajibkan menganalisis baik-buruknya kedua jenis bank tersebut. Dan saat inilah saya memahami mengapa riba haram hukumnya dan mengapa perbankan syariah begitu dibutuhkan. Salah satu point kami membahas mengenai masalah kemitraan atau hubungan. Pada bank konvensional, bank menjadi debitor sedangkan penabung sebagai kreditor. Dengan dasar simpan-pinjam bank membayar bunga kepada penabung dengan tingkat bunga; yang tentunya telah ditetapkan oleh bank, tak peduli berapa keuntungan maupun kerugian yang diterima bank tersebut.
Di sisi lain, di bank syariah, si penabung merupakan mitra sekaligus investor. Ia berhak menerima hasil investasinya yang mengikuti perolehan banknya. Sehingga konsep hubungan kemitraan seperti ini cenderung lebih adil dan transparan. Karena kedua belah pihak, baik penabung maupun bank itu sendiri sama-sama mengetahui perihal dana tersebut. Juga keduanya telah sama-sama ikhlas.

Kembali ke topik, sebenarnya saya tak patut mencampuri urusan mereka; keluarga muda yang telah saya ceritakan di atas, terlebih saya tak mengenal mereka. Tetapi, itulah potret korban ketidakadilan sistem. Dalam hal ini bunga yang diterapkan. Berapa banyakkah orang-orang yang bernasib seperti mereka ? Andaikan mereka menggunakan jasa keuangan syariah, mungkin tak akan seperti ini. Andaikan mereka memahami bahwa berhutang dengan bunga tidaklah menguntungkan mereka, mungkin mereka tak akan melanjutkan hidup hanya untuk menutupi hutang-hutang yang semakin membengkak. Mereka masih muda ! Seharusnya mereka dapat membangun ‘istana’ mereka dan bukan terkukung dalam lilitan hutang. Cukuplah berandai-andai. Toh, kenyataannya merekapun hanya ingin bertahan hidup.

Namun, saya jadi berpikir, mengapa tidak diterapkan metode menabung sejak dini di bank syariah. Bank syariah tak perlu menjejali mereka dengan nama-nama produk yang mungkin asing bagi mereka. Tapi, cukup mengenalkan mereka cara bermitra dengan adil. Saat mereka membuka rekening jadikan mereka sebagai mitra cilik yang mengetahui perihal uang mereka. Sehingga mereka memahami makna syariah itu sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi manusia karena tidak merugikan dan transparan dalam pengelolaannya.

Inilah Gagasan Saya Serta Keuntungannya

Tapi, bagaimana cara menarik minat mereka untuk menabung di bank syariah ?
Jemputlah mereka. Sebuah bank syariah dapat menjalin kerja sama dengan pihak sekolah dasar untuk menjaring nasabah. Sebagian besar sekolah dasar tentu telah mengenalkan budaya menabung kepada siswanya. Dan bank syariah dapat menjadi fasilitator penyimpanan dana mereka.

Saya cukup sedih saat melihat buku tabungan yang diberikan adik saya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, di situ jelas tertulis nama sebuah bank konvensional. Padahal yayasan tempat adik saya bersekolah merupakan yayasan Islam. Yang tentunya telah memahami perihal bank konvensional tersebut. Saya cukup memaklumi, mungkin dikarenakan belum tersedianya produk bank syariah junior atau semacamnya. Sehingga yayasan tersebut memilih yang telah ada.

Mungkin kedengarannya berat, masih kecil tetapi telah dikenalkan tentang perbankan syariah. Kenyataannya, mengenalkan kepada mereka sejak dini itu penting. Minimal mengarahkan mereka untuk menabung di bank syariah dengan sistem perbankan yang adil dan transparan. Sebenarnya tak jauh beda dengan dahulu, saat saya dikenalkan untuk menabung di bank konvensional. Saya sama sekali tak memahami apa itu bunga, tapi menabung di bank konvensional tersebut seakan mengenalkan saya bahwa bunga bukanlah sesuatu yang buruk. Karena tentunya di setiap iklan bank konvensional pastilah ditulis berapa bunga yang ditetapkan. Dan mau tidak mau, meskipun saya tak memahami maknanya, saya dapat membacanya. Dan di mata saya bunga menjadi suatu hal yang biasa-bukan suatu hal yang dimasalahkan-kala itu. Begitupun dengan menerapkan metode menabung di bank syariah sejak dini. Anak-anak bukan dijejali dengan nama-nama produk syariah yang mungkin asing di telinga mereka. Melainkan, mereka cukup diajarkan menabung di bank syariah tersebut. Secara tak langsung mereka akan akrab dengan kata syariah dan lambat laun akan memerhatikan bahwa sama sekali tak ada embel-embel persenan bunga pada brosur maupun iklan perbankan syariah dan bunga akan menjadi suatu hal yang tabu bagi mereka.

Selain itu, mengenalkan perbankan syariah secara lebih detail kepada para remaja juga suatu cara yang baik. Sehingga korban-korban ‘ketidakadilan’ riba lambat laun akan berkurang nantinya. Karena kelak mereka akan dewasa. Dan saat dewasa nanti mereka benar-benar memahami keunggulan perbankan syariah itu sendiri. Kedengarannya seperti suatu hal yang sepele. Namun, kita semua tahu, masa remaja adalah masa dimana pencarian jati diri; salah satu tahap dimana manusia berpikiran kritis. Mengenalkan perbankan syariah membuat mereka memahami suatu tatanan sistem ekonomi yang adil dan transparan. Para remaja pun dapat menganalisis sendiri antara bank syariah dan bank konvensional. Kebaikan dan keburukan dari masing-masing sistem. Dengan mereka terjun sendiri, menjadi salah satu nasabah, akan memudahkan mereka memahami keunggulan dari bank syariah itu sendiri. Serta, dapat melindungi para generasi dari ancaman ketidakadilan bunga. Sehingga tak akan terulang kasus serupa yang saya ceritakan di awal.

Lalu, bagaimanakah caranya?
Cara yang diambil pun masih sama, jemputlah mereka. Dengan menjalin kerja sama dengan pihak sekolah maka akan mempermudah proses pengenalan perbankan syariah kepada mereka. Misalnya, kerja sama dengan sebuah pesantren pada jenjang aliyah melalui pembukaan rekening bagi pelajar yang terdaftar sebagai santri dalam sekolah tersebut. Selain sebagai pengenalan perbankan syariah; termasuk produk-produk bank syariah itu sendiri, cara ini juga sebagai proses pembelajaran para santri, yang telah mendapat pelajaran mengenai muamalah secara syariah, untuk diterapkan pada kehidupan nyata. Sehingga kelak akan muncul pula para bankir profesional yang telah memahami serta berada dalam lingkungan syariah sejak awal. Dan yang terpenting perbankan syariah dapat dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.



 
Read More- Bank Syariah Menjemput Para Tunas Bangsa

6.18.2010

Siapa Aku ?

Aku adalah tiga huruf yang membentuk kata. Kata-kata itu terjabar menjadi A=Angan-angan. K=Keinginan. Dan U=Usaha.:)
Angan-angan membuatku berimajinasi dengan liar. Membentuk sebuah dunia dan hanya aku yang menentukannya. Pikirku, sepertinya Tuhan tertawa melihat ulahku. Imajinasi yang begitu menggelitik membuat keinginan untuk menuangkannya. Dalam duniaku tentunya. Aku pun berusaha untuk mewujudkan dunia versiku. Dan tulisanlah yang terbentuk.:x

Namun aku menyadari, aku barulah seekor ulat yang merindu menjadi kupu-kupu yang cantik. Sehingga aku harus banyak makan daun 'pembelajaran'. Dan aku harus bersabar terbalut dalam kepompong 'cobaan'. Aku yakin suatu saat akan menjadi kupu-kupu yang cantik.[-O<

Aku menulis dan aku dapat memahami siapa diriku. Aku menulis dan aku dapat mengungkapkan siapa diriku. Aku menulis dan aku dapat memanipulasi siapa diriku :P Dari hal sederhana inilah aku belajar banyak hal.

Mungkin aku tak bisa menjadi penyanyi tapi aku bisa menjadi penulis lirik lagu. Mungkin aku belum menjadi pembaca berita tapi aku bisa menjadi penulis amatir yang berlagak menjadi wartawan. Mungkin aku hanya sebagai pelajar kecil tapi aku bisa menyuntikkan semangat kepada dunia luar melalui tulisanku. Menulis membuatku berpikiran positif bahwa kita dapat diterima dalam kondisi apapun.:D

Menulislah kawan dan kau akan merasakan sensasinya.:)

Sekilas Tentang Jati Diriku

Aku lahir di Magelang sembilan belas tahun yang lalu. Aku adalah salah satu pelajar yang mendapat beasiswa untuk berkuliah di Al-Azhar, Mesir. Dan aku adalah lulusan sebuah sekolah asrama bernama Sahid Modern Islamic Boarding School. Sebelumnya aku pun telah mencicipi sekolah berasrama pada usia dua belas tahun hingga dua tahun setelahnya di SMPIT Tashfia. Masa kanak-kanakku dihabiskan di SD Al-Muslim Bekasi selama enam tahun.
Read More- Siapa Aku ?

Katanya

Tahu kan maksudnya ?
Sebuah informasi yang paling gak akurat.
Bayangin kalau kamu mendapat sebuah berita yang sebenarnya menyenangkan. Hanya saja berembel-embel 'katanya'. Dan kamu sama sekali gak memperhatikan kata itu. Maklumlah keduluan perasaan senang. Alpa deh sama semuanya. Dan setelah ditelusuri dan berhadapan dengan kenyataan ternyata berita itu fiktif belaka. Well, poor you.
Atau misalnya kamu lagi panas-panasnya nih sama temen kamu. Tiba-tiba kamu dapat informasi kayak gini, "Loe tau gak sih, si X ;musuh bebuyutan loe, 'katanya' kan ngedeketin gebetan loe!"
Dddeeuuh, udah deh dengan mudahnya loe terperdaya dengan rayuan sesat. 'Wah, gak bisa dibiyarin tuh, loe harus nyamperin dia. Katanya kan dia ngegodain gebetan loe. loe jambak dia. loe cakar. Habisin!' Ungkap satu suara. Adrenalin kamu yang emang lagi berpacu ngerasa mendapat support; yang berlebihan banget. Alhasil, ribut deh hari itu sama teman kamu yang ber-label musuh kamu itu. Padahal, belum tentu itu berita benar. Karena kenyataannya; dalam kisah ini, musuh kamu itu adiknya gebetan kamu !!!
Ya ampun, ckckckck.
sinetron banget sih contohnya.:-B

Atau..., pakai contoh konkrit deh, seperti pengalaman yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya. Belum pernah baca ? Coba klik di sini dulu.;)

Untuk jalan pintas, maksud saya untuk membenarkan sebuah ucapan, sumber referensi yang berembel katanya memang sangat digemari. Tentunya agar sang pendengar yakin atas apa yang kita katakan. Terlebih apabila cara penyampaiannya dengan nada yang mengebu-gebu. Hhhhmmm, two thumbs up gak ya ???

Tunggu dulu ..., kita harus berhati-hati, karena biasanya sesuatu yang enak dilidah lama-lama akan menimbulkan efek yang tidak menyenangkan. Contohnya, permen. Permen tentunya sangat digemari. Tapi, bila dimakan terus menerus akan menyebabkan (salah satunya) gigi rusak. Tak jauh beda dengan 'katanya'. Kata ini membuat kita terlena. Bayangkan dengan satu kata yang sederhana 'katanya', kita bisa dengan mudahnya menyakinkan seseorang tanpa bersusah-susah mencari kebenaran dari apa yang telah kita katakan. 
Berhati-hatilah kawan dan tentu juga diri saya. Kita mungkin bisa tersenyum puas bila lawan kita benar-benar alpa tentang hal yang kita bicarakan dan langsung percaya tanpa memperhatikan kata-kata yang kita ucapkan. Tapi bagaimana, bila kita ternyata berbicara dengan orang yang lebih mengetahui permasalahan tersebut sehingga saat kita membicarakan hal tersebut kepada orang ini, dia akan serta merta menertawakan kita karena kesok tahuan kita. Ckckck [-X, jangan sampai kawan..

Diam memang lebih baik. Dibanding kita berbicara hanya karena secuil kesombongan kesok tahuan kita. Seperti sebuah peribahasa yang sering kita dengar dari mulut para orang tua kita, 'Mulutmu Harimaumu, Nak!'
Read More- Katanya

6.17.2010

Puasa Nge-Blog

Biasanya, orang-orang puasa senin-kamis, puasa daud, puasa ramadhan lha ini kok puasa nge-blog, apa maksudnya ?:D
Sebenarnya puasa ini dijalani dengan sangat tidak sengaja bahkan mungkin tidak diharapkan. Puasa nge-blog = menahan diri untuk tidak mem-posting tulisan. Rasanya kawan jangan ditanya, cukup menyiksa ! (:D. L-E-B-A-Y) Lalu, mengapa bisa terjadi ?

Nah, ini dia inti permasalahannya. Connection internet yang ngadat. Cukup akut permasalahannya, sehingga saya memutuskan untuk puasa nge-blog.

Layaknya orang berpuasa sungguhan, puasa nge-blogpun adaaaaa aja cobaan. Berikut cuplikan beberapa cobaan orang yang puasa nge-blog :

1. Bekasi- Dalam episode pentengkaran kakak-adik.

 "Mba itu sayang sama kamu makanya mba kasih tau !!" (diucapkan dengan nada tinggi, mata melotot, nafas memburu)
 Sang adik yang menjadi lawan bicaranya tertunduk sambil sesekali memicingkan mata ke arah sang kakak.
 "Ngapain kamu ngeliat kayak gitu. Gak sopan !!" Sang kakak merasa terhina diberi tatapan tajam.
 Sang adik tak peduli malah ia menambah kesal sang kakak dengan mendumel tak jelas.
 "Adik durhaka !!" Sang kakak, yang walaupun tak mendengar arti dumelan itu apa, namun merasa tertuju pada dirinya.
 ....

2. Bekasi-Dalam episode curhat.

 Seorang ibu paruh baya pulang ke rumah dengan membawa se-'kresek' cerita yang siap dibagikan kepada suami dan anak-anaknya.
 "Ibu x cerita ke mama, sekolah Y itu jelek."
 "Emang ibu X tau dari mana ?" Sang suami menanggapi.
 "Diceritain ibu Z."
 "Ibu Z dah pernah ke sana, Ma?" Kali ini sang anak bertanya.
 "Ibu X bilang sih, dari katanya (tekankan pada kata ini) ibu-ibu."
 ????????

3. Bekasi-Dalam episode mendadak seleb.

 (Melanjutkan percakapan di atas)
 "Ibu X bilang, ibu Z itu cerita kalau sekolah Y katanya (tekankan pada kata ini) jelek. Sekolah Islam apa itu masa dicampur. Pasti parah banget itu pergaulannya. Begitu dia cerita ke mama."
 Sang anak merengut.
"Dah gitu dia bilang begini, Lihat aja itu anaknya bu W !"
Sang anak pun bertambah merengut lebih  tepatnya  geram karena dengan mudahnya membawa-bawa contoh yang gak konkrit.
 "Makanya ibu X yang gak percaya dan dah kenal sama kamu (anaknya bu W itu adalah sang anak;red) mengklarifikasi sama mama  (bu W)."
 ....

Tiga cuplikan di atas berakhir di depan layar netbook dengan muka merengut, kesal campur aduk (antara kejadian yang dialami dan keinginan menuangkan unek-unek yang terhalang masalah akut; alat berselancar di dunia maya yang ngadat).gggrrrhhhh....

Astaghfirullah.

Akhirnya saya memutuskan untuk berbaring. Berharap amarah itu segera reda. Tapi ternyata tidak. Justru yang ada bayangan-bayangan berkelebatan, menerka-nerka siapa pelaku yang seenaknya berkata demikian. Dan membuat hati saya semakin gondok karena saya tak kunjung menemukan sosok yang diduga sang pelaku. Siapa ibu Z sebenarnya ?; ibu saya sama sekali tak memberitahu saya, siapa gerangan ibu Z tersebut.

Ya Allah....

Saya pun mengambil air wudhu. Kemudian melaksanakan shalat duha. Waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Usai membaca doa shalat duha, saya merasakan ketenangan yang cukup. Meski seringkali kegondokan nyaris membuat saya mengumpat tak karuan. Segera saya membaca kitab al-qur'an. Tenang. Saya mulai dapat berpikir jernih. Membiarkan pikiran-pikiran positif menghinggapi otak saya. Meski terkadang kekhilafan membuyarkannya.
Saya hanya manusia biasa, dengan tubuh kecil dan keimanan yang masih labil.Yah, Saya hanya mencoba menjadi orang kuat dibalik mungilnya tubuh saya. Bukankah orang kuat adalah orang yang dapat menahan amarahnya ?:)
Read More- Puasa Nge-Blog

5.13.2010

Sebuah Percakapan Tadi Sore

Hujan mengguyur bumi sore ini. Angin semilir menelusup diantara rongga-rongga teralis. Membuatku terkantuk saat sedang mendengarkan mama berbicara. Aku terbiasa menghabiskan waktu luang terlebih saat sore hari, untuk berbincang-bincang dengan mama. Topik apapun pasti pernah kami singgahi. Terlebih berita-berita heboh yang menghiasi layar kaca. Dari mulai tentang politik, pendidikan, tentang Ibu Sri Mulyani yang 'dilamar' Bank Dunia, 'drama' para tersangka koruptor, sampai tentang gunung merapipun tak luput kami bahas. Tapi jangan sangka bila percakapan kami ini semacam gosip. Sungguh tidak! Karena setelah itu, kami berusaha mencari solusi atas masalah yang kami bahas untuk menjadi pelajaran bagi diri kami.

Namun sore itu topik yang mengalir dari mulut kami berbeda. Tentang jodoh.
Akar bermula dengan pertanyaan, "Adek bener, udah manteb pengen ke Mesir (red:Al-Azhar)?"
Aku pun mengangguk. Kemudian bertanya, "Mama enggak mau ya, Lia sekolah di sana ? Habis Mama ngajuin pertanyaan kayak gitu udah lima kali lebih."
Mama tersenyum, "Bukan gitu," sesaat terdiam, "namanya orang tua kan ada perasaan berat ngelepas anaknya. Tapi, kalo' adek dah manteb ya udah."
Sempat membuatku bimbang. Tapi kemudian, aku mengangguk mantab.
"Ya udah, Mama ngedukung adek sekolah di sana asalkan lulusnya cepet dan....," kemudian terdiam. Dramatis nih mama. Batinku "....cepet nikah."

????????

sumber gambar: cinderella-wedding.com 

Wajar bila orang tua khawatir mengenai hal yang satu ini. Terlebih bila kepada anak perempuan. Mungkin, takut bila anaknya menjadi perawan tua. ( ??)
Tentunya, aku pun tak pernah berharap seperti itu.

Kadang aku berpikir, 'Mengapa kita mengkhawatirkan sesutu yang sejatinya telah ditetapkan Yang Kuasa?'
Tua sekali saya. But, well pertanyaan itu memang selalu menghantui.

Atau mungkin pertanyaan itu timbul karena diriku belum mempunyai keinginan ke arah sana. Tapi, tidak juga ah, aku pun penasaran dengan siapa kelak akan bersanding. Jawabannya hanya satu, biar waktu yang menjawab.

Dan pertanyaan biasanya bertambah menjadi, 'Kriteria kamu apa aja sih?'
Waduh, kalau bicarain kriteria gak akan ada habisnya. Manusia biasanya gak pernah puas sama satu option. Atau mudahnya, bila kita menginginkan kriteria kita terwujud, ada baiknya kita pun berusaha menjadi kriteria yang kita tetapkan. Misalnya, kalau kita ingin pasangan yang sholeh hendaknya kita sholehah. Tapi biasanya sih kriteria itu ditetapkan berdasarkan kekurangan kita. Dengan alasan, untuk saling melengkapi. Yah whatever, tapi yang harus kita percaya, kehendak Tuhan (apapun itu), tentulah yang terbaik bagi kita. Meski itu unwated option sekalipun. Benar-benar keluar dari daftar list kita. Karena meski perlahan, kita pasti dapat memahami maksud kehendak Tuhan tersebut. Meski itu sangat telat. Jauh di belakang. Menjalani apa yang ada di hadapan kita sepertinya lebih baik. Dibandingkan dengan mencari sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui terkubur dimana. Dalam hal apapun. Bersyukur mungkin kuncinya. Bukan mungkin, memang iya.
Hahaa. Tua kali saya hari ini ?!!??

Tanpa terduga pertanyaan itu pun yang selanjutnya mama utarakan.
Aku pun tertawa. Dan akhirnya berkata,
"Yang deket sama mamanya."
Selanjutnya, mama mengangguk-angguk sambil berkata,
"Benar itu, benar."
Read More- Sebuah Percakapan Tadi Sore

5.12.2010

Dia Merindu

Saya sedang terlena ber-ha-ha-hi-hi di wall facebook ketika saya terpaku pada satu status yang dipostkan salah satu kawan. Statusnya tertulis :
 Give me the power, God .I miss my Dad, I miss my Mom.

Sekilas status itu terlihat biasa dan wajar. Ekspresi seorang anak saat rindu kepada orang tuanya yang terpisah jarak. Pengecualian untuk yang satu ini. Biasanya saya hanya tersenyum bila membaca status yang maknanya serupa seperti status tersebut. Namun, kali ini saya ingin menangis.

Dia adalah teman SMA saya, pemilik status tersebut, meski hanya beberapa bulan kami berteman secara nyata; bertemu, bertatap muka, kenyataannya kenangan bersama dia justru yang tertoreh paling dalam. Terdengar agak melankolis. hhe

Mungkin kalian bertanya, mengapa saya tangisi ?
Saya sama sekali tak menangisi status tersebut ataupun teman saya yang kenyataanya kami sudah jarang bertemu. Tapi kejadian tiga tahun silam yang membuat saya tak dapat menahan bulir air mata ini.

Setiap sore kami terbiasa bermain bersama di kamar. Oh, ya belum saya beritahu ya bahwa saya bersekolah di SMA berasrama. Kami, bersama empat orang teman kami yang lain, menyicipi berbagai macam permainan. Dari mulai bermain wanna be superstar (entah itu pop, rock, dangdut bahkan qosidahan), skiping bergantian (padahal kami di lantai dua ! Kebayang kan lantai yang berdegum. Dan tak dapat disangkal kami pun berbuah protes dari penghuni bawah), bermain tutup mata (yang lagunya begini: 'Polisi, polisi numpang tanya,' prok!prok!prok! *suara tepukan tangan* tahu kan ?) sampai, permainan ditutup dengan adegan saling pukul memakai guling. Yang menang mengolok-olok yang kalah, yang kalah tidak akan mengakui bahwa dirinya kalah, hanya kurang beruntung!
Namun, suasana sore itu berbeda.Memang, kami masih tetap menjalani ritual bermain saat sore, tertawa-tawa bersama. Hingga tiba-tiba Bella, sang pemilik status, terdiam secara mendadak. Menyendiri. Dan sedikit emosional saat disuruh membereskan ranjang miliknya. Hal yang aneh bagi kami. Bela, yang merupakan akar dari semua kecerian yang kami ciptakan. Dia yang tak pernah absen untuk tertawa. Selalu ceria. Dia yang suka memunculkan ide-ide aneh; ranjang tingkat ia jadikan jemuran handuk! dan kami mengikuti jejaknya, ia yang paling rajin menyetrika baju tiap malam, ia yang gak pernah habis menceritakan hal-hal konyol yang pernah dia alami, tiba-tiba speechless tanpa sebab.
Kami heran. Dan selanjutnya kami resah.
Sebelumnya, saat kami sedang tertawa-tawa dan terlampau keras, salah seorang teman kami mengingatkan, 'Awas lho, kan biasanya kalo' tertawanya berlebihan nanti pasti berbalik jadi sedih berlebihan.' Saat itu kami menganggapnya hanya sebagai lelucon. Namun tak ayal, jantung saya berdegup saat dia berkata seperti itu.
Beberapa jam kemudian.
Bela masih terpuruk di kasurnya. Seperti di komando tak ada satu pun dari kami, dari empat orang yang tersisa selain Bela, berani mendekat untuk bertanya. Pikiran kami satu muara, dia mungkin sedang ingin menyendiri.
Hingga akhirnya, Bela pun terbangun dan berkata, 'Sorry ya, ggw tadi cuma kangen sama Abah.' Kami memaklumi. Pria yang ia panggil Abah tak lain adalah ayahnya. Memang, saat itu ayahnya sedang dirawat di rumah sakit. Dan Bela tak pernah berhenti berkata bahwa dia kangen Abah. Berikutnya, Bela pun kembali ceria meski dengan mata sembab.
Beberapa menit kemudian.
Handphone milik Bela berdering.
'Kenapa Ma ?' Begitu Bela menyapa.
Selanjutnya hanya tangisan yang kami dengar diiringi lantunan kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Itu hari pilu yang pernah saya beserta keempat orang teman alami. Karena setelah kejadian itu Bela tak lagi bermain bersama kami, ia pindah dan memilih tinggal bersama ibunya di rumah. Kami pun terpukul. Tak pernah terpikirkan oleh kami bahwa hari itu adalah hari terakhir bagi kami bermain bersama. Tak menyangka, kami tertawa terbahak dan menangis tersedu dalam waktu bersamaan. Sejak saat itu, setiap kami tertawa, kami selalu mengerem untuk tidak berlebihan. Kejadian saat itu menjadi pengalaman paling berharga dalam hidup kami. Walaupun kami akui yang namanya ajal di tangan Sang Kuasa. Hanya kami terus mengingat, bahwa sepatutnya segala sesuatu dijalankan sewajarnya. Tidak berlebih-lebihan. Lagipula, kami seorang wanita yang tak patut tertawa terbahak-bahak bahkan hingga terlihat gigi geraham. Suatu hal yang tak indah.

Saya kembali terbayang wajah Bela yang sendu saat membaca status tersebut dan saya tak ingin. Saya pun menulis pesan di wall miliknya :

Si Arab (panggilan akrab Bela) yang gw kenal itu adalah Bela yang tegar. Chayo Bel ! I miss you so.
Sederhana memang. Tapi harapan saya untuk melihat wajah ceria Bela tertanam besar dalam kalimat itu.
Read More- Dia Merindu