Menunggu memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Terlebih menunggu sesuatu yang tak pasti. Seperti sekarang ini, aku sedang menunggu hasil UAN yang memang tak pernah pasti hasilnya menyenangkan atau tidak, tentunya bagi kita. Apalagi yang kutunggu ini membuat diriku terus merasa was-was. Takut akhirnya tak memuaskan. Membuatku selalu merasa mules apabila terus mengingatnya. Walaupun kadang aku selalu diyakinkan bahwa pasti akan bagus tapi tetap saja sesuatu yang tak pasti itu membuat kita selalu resah.
Sehari sebelum UN ; flashback, aku meminta doa dari orang tuaku. Walaupun sebenarnya doa orang tua tanpa kita minta pasti telah terpanjatkan. Papa dan mama bergantian memberikan petuah kepadaku. Mulai dari cara membulatkan yang harus hati-hati, sampai suruhan langsung istirahat begitu selesai menelepon. Tanganku tiba-tiba gemetar saat papa memberitahukan bahwa ia puasa senin-kamis untuk kesuksesanku. Rasanya aku ingin menciumi tangan papa dan mama. Diakhir pembicaraan mama terus mengingatkanku untuk selalu terbangun di sepertiga malam untuk bermunajat kepadaNya.
Doa memang senjata terampuh bagi kita, umat muslim. Dan aku sangat mempercayai hal itu. Terlepas dari usaha yang selalu kita lakukan doa seakan menjadi simpul yang akan memperkuat hasil dari usaha tersebut.
Sampai-sampai pimpinan harian sekolahku, di setiap petuah-petuahnya selalu menekankan pentingnya berdoa. Kekuatan doa. Dan Kehebatan sebuah doa. Takdir yang buruk bisa berganti menjadi lebih baik dengan doa dan juga usaha.
Setidaknya aku selalu merasa lebih ringan saat aku bermunajat, meminta kepadanya. Karena aku tahu Dia selalu mengerti akan hamba-Nya.
0cuap-cuap:
Tulis Pendapatmu di sini, Kawan!